Rumah Reyot di Pinggir Desa 14/4/26

 Benih Padi Terakhir

Author: Abdul Rahim

Prolog:
Malam hendak menyapa, rumah reyot di pinggiran desa menjorok ke dalam hutan itu menjadi ramai. Suara tangis beberapa anak kecil makin jelas terdengar menyayat hati. Sesekali terdengar suara perempuan dengan lembut berusaha menenangkan tangisan itu. Sebentar reda tangis yang satu, Ialu kembali lagi terdengar tangis yang lainnya. Dendangan dari perempuan itu juga mulai terdengar.

Dialog:
 Ibu: "Pait-pait rasan nasi, manis-manis buaq ara."

 Ibu: "Tidur anakku sayang, besok kita akan petik buah ara yang banyak di bawah tebing, supaya kau tidak lapar lagi."

 Anak: "Mak, untuk apa padi yang digantung itu? Beberapa bagian sudah banyak yang rontok."

 Ibu: "Bapakmu sudah berpesan, padi itu nanti akan kita tanam jika musim hujan, dan ..." a tak melanjutkan ucapannya.

 Anak: "Dan apa, Mak?"

 Ibu: "Sudahlah, Nak, kamu tidur juga ya malam makin larut. Kita harus mematikan lampu ini untuk menghemat minyak."

 Anak: "Tapi Mak, bapak kan...

 Terdengar tiupan dari bibir ibunya gelap menyelimuti.

Comments

Popular posts from this blog

Top 3 gambar, dan video (13/4/26)